Ass_kum, kali ini saya akan mengisahkan kembali cerita yang dialami sahabat saya (sebut saja H. Eko) yang sepulang darimenunaikan rukun Islam yang ke 5, berhaji ke tanah suci.
Dengan ditemani istrinya H. Eko menunaikan Ibadah Hajinya 'berkat ketelatenannya' nabung uang hasil ia buka usaha tambal ban di desanya. Keinginan itu baru terlaksana setelah perjalanan panjang selama 20 tahun, suatu usaha yang luar biasa demi keinginannya menunaikan rukun ke 5. Sampai sampai ia harus melewati masa menyedihkan harus ditinggal pergi sang anak yang masih berumur 6 tahun. Si Jamil, namanya.
H. Eko begitu yakin jika berdoa di masjidil Haram akan terkabul saat itu juga. Setelah malam harinya ia bedoa agar ALLAH bisa mempertemukan dia dengan anaknya Jamil, akhirnya benar juga, ia bisa 'bertemu dan berbicara langsung dengan Jamil' sewaktu berada di maqam Ibrahim. Ia sungguh sungguh berbicara seperti layaknya seseorang berbicara dengan orang. Namun bagi istri H. Eko yang menyaksikan kejadian itu merasa aneh, sebab yang ia lihat pada waktu itu sepertinya H. Eko, sang suami seperti berbicara sendiri.
"mas tadi kok berbicara sendiri, seperti orang tidak waras saja." kata istri H Eko setelah sesampainya di hotel kembali.
"bu......aku tadi ketemu si Jamil, anak kita."
"ketemu si Jamil? kamu jangan mengada ada....Jamil kan sudah lama meninggal.."
"betul bu....tapi saya betul betul berhadapan dan berbicara langsung dengan dia, alhamdulillah sekarang ia sudah merasa senang, ia sudah berada di satu taman yang indah sekali katanya....."kata H. Eko menerawang jauh, seolah mengenang apa yang baru saja dialaminya.
"apa betul begitu mas...???"
"begitulah kenyataannya......, aku sendiri merasakannya" tiba tiba saja air mata H Eko tak bisa dibendung, ia mengalir ke pipinya yang mulai ada keriput.
"subhanallah....."sahut istrinya dengan penuh haru. "rasanya aku jadi kangen mas sama Jamil....."
"yah........cobalah memohon kepada Allah, agar dapat bertemu dengannya."
Istrinya mencoba meniru apa yang telah dilakukan H. eko, tapi entah kenapa sampai menjelang kepulangan ke tanah air belum juga dikabulkan oleh-Nya.
Selidik punya selidik, ternyata istri H. Eko sewaktu Jamil masih hidup memang kurang begitu perhatian kepada Jamil, tidak seperti yang dilakukan oleh H. Eko, yang begitu sabar menemani dan mendidik anaknya itu, sekalipun ia hanya seorang 'penambal ban'
Tapi H Eko bisa menikmati hidup dengan sebenarnya.
Sekian semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
AgungIchwanto
From TanahSuci Gresik
CARA CERDAS TUNAIKAN IBADAH HAJI PLUS DAN UMROH │ BERBAGI CERITA │ PENGALAMAN │ HUKUM │ KEUTAMAAN HAJI UMRAH
Total Tayangan Halaman
Kamis, 03 Maret 2011
Senin, 28 Februari 2011
wanita yang haji sendirian
WANITA BERHAJI – BEPERGIAN HARUS ADA MUHRIMNYA :
Hadits tentang syarat wanita jika melaksanakan Ibadah Haji/ bepergian :
Tidak dibolehkan bagi seorang wanita yang ber-iman kepada ALLAH dan hari kiamat bepergian sejauh tiga malam (hari) kecuali bersama muhrimnya (HR. Muslim)
Semoga bermanfaat
Hadits diambil dari kitab : HADITS SHAHIH AL JAMIUS SHAHIH BUKHARI MUSLIM karangan Hussein Bahreisj. ©
Tawakkal yang salah
INNALILLAHI WA INNA ILAHI RAAJI’UUN…..
Dia hanya bisa mengucapkan Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun…..ketika sepasang sandalnya yang lenyap entah kemana.
Hal ini dialami dan diceritakan langsung kepada saya ketika kawan saya usai mengerjakan ibadah Haji di tanah suci, sebagai ‘oleh-oleh’ katanya.
Siang itu cuaca di sekitar Masjidil Haram sedikit berawan, namun panasnya masih terasa. Sementara itu sudah banyak jama’ah haji dari berbagai pelosok negeri berdatangan sehingga masjidil haram terasa sesak oleh jama’ah.
Teman saya melangkahkan kaki menuju pintu gerbang masjidil haram, dan dilihatnya begitu banyak sandal sepatu terompah dan semacamnya tergeletak di depan pintu masuk. Ada juga yang dibungkus plastik, tas kecil, atau sekedar ditutup koran. Teman sayapun bergumam dalam hati : “sudah! biarin saja sandal ini saya taruh disini, kalau Allah menghendaki hilang biarlah hilang, kalau masih rejekiku tentu tidak akan hilang.”
Sang temanku itupun segera menaruh sandalnya yang baru dibelinya itu begitu saja dilantai, namun betapa terkejutnya dia, karena baru melangkah sekitar 3 s/d 4 langkah, ia mencoba menengok ke tempat sandalnya ditaruh, ternyata sandal itu sudah tidak ada ditempat. Ia mencoba kembali dan meneliti ke tempat saldalnya tadi, barangkali mungkin ‘terselip’ diantara beberapa sandal yang berserakan. Kira kira 10 menit, temanku mulai yakin bahwa sandalnya benar benar telah lenyap entah kemana. Ia hanya bergumam :
“Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun……”
Temanku tak habis berpikir, kenapa sandal itu begitu cepatnya hilang, padahal baru sekitar 5 – 10 detik saja.
Ia baru sadar jika dirinya salah. Ia telah berbuat sombong mendahului kehendak Allah tanpa ber-tawakkal kepada-Nya.
Tawakkal itu diibaratkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut : “ikatlah onta kamu, lalu bertawakkal-lah kepada Allah.”
Rupanya disini kesalahan Teman saya itu, ia tidak berusaha ‘meng-aman-kan sandalnya terlebih dahulu, tapi ia sudah ‘sok tawakkal’
Inilah gambaran tentang tawakkal kepada Allah, jadi lakukan segi pengamanan dulu, baru kita bertawakkal. jika memang masih ada berarti masih rejeki kita, tapi jika hilang, maka itu memang sudah kehendak Allah. Wallahu-a’lam
Sekian semoga bermanfaat.
AgungIchwanto,
dari tanahsuci-gresik
Pahala Anak Kecil berhaji
PAHALA DARI ANAK KITA YANG MELAKUKAN HAJI :
Hadits tentang pahala dari anak kita yang melakukan haji :
Seorang Ibu mengangkat anaknya (yang masih kecil) dengan berkata : “Ya Rasulullah, bolehkah anak ini berhaji?”, lalu Rasulullah SAW menjawab : “Ya, dan bagi kamu akan mendapat pahala.” (HR. Muslim dari Ibnu Abbas ra)
semoga bermanfaat,
Hadits diambil dari kitab : HADITS SHAHIH AL JAMIUS SHAHIH BUKHARI MUSLIM karangan Hussein Bahreisj. ©
Hukum Melakukan Haji untuk orang lain
HUKUM MELAKUKAN HAJI UNTUK ORANG LAIN
Adapun dasar diperbolehkannya melakukan haji untuk orang lain adalah hadits ini :
Seorang wanita dari suku Khats’am berkata : “Ya Rasulullah, seseungguhnya kewajiban dari ALLAH terhadap hamba-Nya untuk berhaji telah mewajibkan pula terhadap ayahku yang tua renta, yang tidak bisa duduk dengan baik diatas kendaraannya, bolehkah aku berhaji untuknya? Rasulullah SAW menjawab : ‘ya’ (HR Muslim)
Semoga bermanfaat, amin
Hadits diambil dari kitab : HADITS SHAHIH AL JAMIUS SHAHIH BUKHARI MUSLIM karangan Hussein Bahreisj. ©
Kamis, 24 Februari 2011
MINA
Mina
Mina merupakan lokasi di Tanah Haram Makkah (Tanah yang diharamkan bagi orang selain Muslim). Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal disini sehari semalam sehingga dapat melakukan sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah. Amalan seperti ini dilakukan Rasulullah SAW saat berhaji dan hukumnya sunnah. Artinya tanggal 9 Dzulhijah sebelum ke Arafah, tidak wajib bermalam di Mina.
Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan Wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumroh. Di Mina ini, pada malam hari tidur dan pada siang hari melempar jumroh. Yaitu tanggal 10,11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau tanggal 10,11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.Untuk tanggal di atas, amalan bermalam dan melempar jumroh merupakan amalan wajib haji (yang jika tidak dilakukan, harus membayar dam atau denda).
Pada hari-hari biasa di Mina kosong tidak berpenduduk, walaupun terlihat bangunan permanen. Namun pada tanggal 10 Dzulhijah dan beberapa hari sebelumnya dipadati para jamaah haji.
Tanah di Mina tidak boleh dimiliki oleh perorangan, yang boleh adalah menempati untuk keperluan ibadah saja.Sesuai dengan riwayat isteri nabi, Aisyah , “Ya Rasullullah SAW, perlukah kami buatkan di Mina untuk anda berteduh?” , rasul menjawab ,”Jangan, sesungguhnya Mina adalah tempat duduk orang yang lebih dahulu datang”.
Tempat atau lokasi melempar jumroh terdapat di Mina, yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula.
Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid dimana Rasulullah SAW melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah Haji.
http://umrahhajigratis.com/tempat-bersejarah/mina
Label:
Mina
Lokasi:
Suci, Manyar, Indonesia
KEAJAIBAN DI MASJIDIL HARAM - MINTA MATI DI TANAH SUCI
KEAJAIBAN DI MASJIDIL HARAM │ MINTA MATI DI TANAH SUCI
Tentang keajaiban di Masjidil Haram ini sudah banyak yang membuktikannya dengan kepala sendiri, salah satunya kisah nyata dari Bapak Drs. H. Slamet Prayitno, seorang pegawai di Pemkot Surabaya yang telah melaksanakan Ibadah Hajinya bersama istrinya Ibu Nurul Azizah sekitar 4 tahun silam untuk embarkasi Surabaya.
KEAJAIBAN DI MASJIDIL HARAM │ MINTA MATI DI TANAH SUCI
Jauh sebelum keberangkatan beliau ke tanah suci, beliau sudah bercita-cita MINTA MATI atau ‘Diwafatkan Allah di Madinah Al Munawaroh. Sebuah keinginan yang luar biasa, namun ALLAH rupanya tidak menghendaki demikian.
Malam seusai beliau melaksanakan berbagai kegiatan ibadah di Masjidil Haram, beliau langsung menuju tempat peraduan untuk istirahat melepas penat yang melekat. Di tengah tidurnya, secara tiba tiba saja suhu tubuhnya panas bukan main. Ia gelibakan bagai seekor cacing yang terpanggang api. Sang istri sudah berusaha membangunkannya, namun Pak Slamet ini sepertinya sekarat, ia berteriak teriak : “jangan!!! jangan!!! saya tidak mau mati disini,,,, tidaaakkk!!!,,,,tidaaakkk!!!,,,,,,saya tidak mau mati disini!!!.....saya tidak mau mati disini…!!!....saya hanya mau mati kalau mati di Madinah……!!!” begitu seterusnya ia berteriak teriak sambil memegangi lehernya yang seolah ada yang mencekiknya. Dan sang istripun semakin kebingungan, ia berusaha memanggil jama’ah lain untuk menolong suaminya yang sekarat itu. Namun tidak menghasilkan sesuatu yang dapat merubah keadaan. Pak Slamet terus berteriak teriak. Namun sekita setengah jam kemudian Pak slamet terlihat mulai sadar, ia pun terbangun dan langsung minta air kepada istrinya.
“air…air…air….” buru buru Ibu Nurul memberikan air minum.
Setelah air itu diminumnya, Pak Slamet masih minta air lagi sampai beberapa gelas. Akhirnya sang istri bertanya : “kamu ini ada apa Mas?!...kok berteriak teriak seperti orang kesurupan..?!” tanya istrinya cemas.
Pak Slamet tidak segera menjawabnya. Ia masih berusaha menenangkan pikirannya.
“Saya mau mati Dik!”
“Kamu jangan ngomong macam macam ach!!”
“Ya! rasanya tadi aku didatangi oleh seseorang…..aku tidak tahu….apa itu setan atau malaikat, …..tapi tidak mungkin setan, sebab ini di tanah suci,,,,,”
“terus…?”
“orang tadi mau mencekik leherku,,,, katanya ini sesuai dengan permintaan kamu.”
“permintaan apa mas?”
Pak slamet menghela nafas panjang dan berat.
“saya pernah memohon kepada Allah agar diwafatkan di Madinah, tapi orang dalam mimpiku tadi mau mencabut nafasku di sini, aku tidak mau, aku tidak mau mati disini, aku mau mati di Madinah,,,sebab di madinah maqam para syuhada”
“istighfar Mas…..istighfar……., kenapa harus meminta mati disini??!!....kalau kamu mati bagaimana dengan anak anak kita? anak anak kan masih perlu Bapak, kasihan anak anak nanti…..sudah istighfar…istighfar…istighfar Mas….”kata istrinya berusaha mengingatkan Pak Slamet.
“ya……saya khilaf……astaghfirullah al adzim….ampunilah hambamu ini Ya Alllah…..”gumam Pak Slamet dan tak lama panas tubuhnya mulai berangsur normal.
Itulah satu kisah nyata tentang keajaiban di sekitar Masjidil Haram yang dialami dan dikisahkan sendiri oleh beliau dihadapan saya sebagai oleh oleh dari menjalankan rukun hajinya. Insya Allah ke depan saya akan tulis lagi cerita tentang keajaiban di Masjidil Haram yang lain.
Sekian, semoga yang sedikit ini bisa dijadikan ‘cermin’ bagi kita yang hendak melaksanakan ibadah haji, jika ada yang keliru itu karena mungkin saya lupa menyebut tempat yang dimaksud Pak Slamet itu, apa di madinah atau makkah atau tempat lain.
Semoga Allah senantiasa meringankan setiap langkah kita didalam menuju ridho-Nya, amin.
Wassalamu’alaikum wr wb
AgungIchwanto,
Tanahsuci-Gresik.
24/02/2011 at 22.18 GMT (+8)
Langganan:
Postingan (Atom)